Pertanian di Jawa Awal Abad 19

Pertanian di Jawa Awal Abad 19

Source : The History of Java (Thomas Stamford Raffles)

Kata Kunci : 1 (satu) kati = 1 1/4 (satu seperempat) liter, Koromandel (pantai yang terletak di sebelah tenggara Semenanjung India), Ceylon (Sri Langka), Buitenzorg (Bogor),

Kondisi Tanah

Kondisi tanah di Jawa membutuhkan sedikit perawatan, tanahnya bisa menghasilkan berbagai tanaman dan buah-buahan yang berlimpah dan seharusnya bisa mencukupi kebutuhan semua penduduk.

Di bawah sinar matahari tropis, di sini tumbuh semua buah-buahan tropis. Sementara itu, di daerah pegunungan dan beberapa distrik yang terletak di dataran lebih tinggi, mempunyai semua keuntungan daerah yang beriklim sedang. Disini pohon bambu, kelapa, tebu, kapas dan tanaman kopi, tumbuh dalam jumlah banyak dan berkualitas tinggi. Padi sebagai makanan pokok utama, tumbuh memenuhi lereng pegunungan dan dataran rendah serta menghasilkan panen sebesar 30-50 kali lipat. Jagung atau gandum, dan beberapa tanaman khas eropa, bisa ditanam di dataran tinggi dan daerah pedalaman. Tanahnya sangat subur sehingga setelah menghasilkan 2-3 kali panen dalam setahun, tidak perlu ada pergantian tanaman. Para petani biasanya membuat beberapa saluran untuk mengairi sawahnya, dengan mengambil dari sumber air yang melimpah, terutama dari sungai. Setelah diairi dan tersinari matahari serta telah melewati musim hujan, maka musim panen pun tiba.

Sebagian besar tanahnya, sekitar 7/8 masih terlantar, dan jarang penduduknya. Seluruh pulau hanya ditunjang dengan hasil 1/8 dari tanahnya saja. Apabila seluruh tanah yang ada dimanfaatkan, bisa dipastikan tidak ada wilayah di dunia ini yang bisa menandingi kuantitas, kualitas dan variasi tanaman yang dihasilkan pulau ini. Jenis pertaniannya berbeda, tergantung kondisi alam dan ketinggian tanah serta fasilitas pengairan yang ada. Lahan pertanian terbaik ada di lembah-lembah dataran tinggi atau di lereng pegunungan, dan di dataran kaki pegunungan. Hal ini karena tanahnya sering mendapat tambahan tanah baru dari bukit yang tersapu hujan. Lahan terburuk yang disebut kendang ada di sekitar perbukitan rendah, yang tersebar di beberapa wilayah, terutama di distrik selatan, tapi tidak sama sekali tandus, karena jika terdapat cukup pengairan, tanahnya bisa menghasilkan beberapa tanaman.

Kondisi Petani

Beras adalah makanan pokok bagi semua kalangan di Jawa, dan merupakan tanaman yang paling banyak dipelihara. Setiap harinya petani dapat memperoleh sekitar 4-5 kati; satu kati sama dengan satu seperempat liter, jumlah yang cukup untuk makan orang dewasa.

Kerbau

Kerbau dan Sapi biasa digunakan untuk membajak sawah. Kerbau di sini lebih kecil dari kerbau Sumatera atau Semenanjung Malaya, tetapi lebih besar dari kerbau Bengali atau kerbau dari pulau-pulau di timur laut Jawa. Binatang ini sangat kuat dan tahan bekerja berjam-jam, tetapi tidak kuat terhadap sengatan matahari. Kulitnya hitam atau putih; yang hitam biasanya lebih kuat. Orang Sunda menyebut kerbau dengan nama munding, sedangkan di Jawa disebut maisa atau kebo.

Sapi

Sapi di Jawa berasal dari keturunan sapi India. Ada dua jenis sapi yang biasa dijumpai, yaitu sapi Jawa yang merupakan keturunan campuran, dan sapi bengali atau surat, yang mempunyai ciri punuk di bahu dan terkenal dengan keaslian keturunannya. Sapi yang telah dikebiri digunakan sebagai pengangkut beban atau sebagai tunggangan. Sapi biasa dipelihara sebagai ternak, dan penting untuk petani miskin, tetapi untuk pekerjaan di sawah dan lahan pertanian lain, biasanya menggunakan kekuatan tenaga kerbau. Di kawasan timur laut Pasuruan, lahan pertanian dibajak oleh tenaga kerbau dan sapi. Jenis lain yang liar adalah banteng, yang bisa ditemukan di hutan di Bali dan beberapa daerah lain. Perubahan yang tampak nyata pada hewan jantan yang telah dikebiri, yaitu warnanya berubah menjadi kemerahan.

Sapi-sapi Jawa, sama seperti sapi di seluruh kepulauan ini,  tidak sebagus jenis aslinya, karena setelah dijinakkan harganya menjadi murah, dan mereka juga tidak menghasilkan susu seperti  sapi ternak di negara lain. Namun, kerbau penarik beban tidak mengalami hal yang demikian. Di distrik Jawa Timur dan Jawa Tengah, kerbau merupakan hewan yang kuat dan aktif serta sangat berguna. Sapi ternak yang jelek akan dibawa ke hutan untuk dikawinkan dengan banteng liar, agar menghasilkan keturunan yang lebih baik. Sepasang sapi cukup kuat untuk menarik bajak dan penggaru di sawah. Mungkin dikarenakan udara yang leibh baik, atau makanan atau karena perawatannya yang lebih baik, maka baik sapi jantan maupun betina di Jawa lebih baik kondisinya dibandingkan di India.

Kerbau, dibandingkan hewan ternak lain, tampak lebih rentan terhadap wabah penyakit. Wabah tersebut biasa terjadi di seluruh pulau tanpa bisa dilacak penyebabnya, dan terulang lagi dalam periode 3, 4, atau 5 tahun, sehingga sangat merugikan petani. Penyakit ini tampaknya menular dan sangat berbahaya apabila mulai terjangkit. Sebutan untuk penyakit ini berbeda-beda di tiap daerah. Karena sapi tidak terserang penyakit ini, dan juga harganya lebih murah dibanding kerbau, maka sapi banyak disukai penduduk sebagai pengganti kerbau.

Cara Bertani

Apabila kita mengacu pada cara bertani orang Inggris, maka akan memerlukan banyak peralatan mahal dan rumit untuk keperluan itu, namun tidak demikian halnya di Jawa. Dalam proses produksi, mulai dari penanaman benih sampai tiba waktu penggilingan, hanya dibutuhkan sedikit usaha serta dikerjakan dengan proses dan cara yang sederhana ala petani Jawa. Petani disini tidak mengetahui kegunaan berbagai peralatan dan mata bajak seperti yang digunakan di Inggris, misalnya bajak pengayun, bajak dengan roda, bajak dua mata. Demikian pula halnya dengan metode pengolahan tanahnya, metode penyiangannya, penanamannya, serta cara membuat dan merawat berbagai peralatan. Bajak para petani Jawa bentuknya sangat sederhana, seperti alat penggaru, ada pula alat untuk membalik tanah, juga cangkul atau pachul yang menjadi alat penggali, serta arit yang berfungsi sebagai pisau pembabat, dan juga ani-ani untuk memotong padi. Semua itu adalah peralatan yang dibutuhkan para petani untuk mengolah sawah.

Bajak (waluku) yang digunakan untuk mengolah sawah yang telah diairi, terdiri dari tiga bagian, yaitu badan, balok dan pegangan. Biasanya terbuat dari kayu jati atau kayu lainnya yang kuat, sedangkan gandarannya hanya dari bambu. Meskipun bentuk dan daya tahannya sederhana, tetapi lebih kuat dari bajak di Bengali. Colebrooke menggambarkan perbedaan kedua bajak itu pada satu bagian di tengah bajak yang dipotong untuk membuang tanah ke tepi. Bagian ujung bajak dilapisi besi, tetapi di beberapa distrik, bagian itu justru dibuang. Ada bentuk lain yang lebih sederhana, yang digunakan untuk daerah kering dan pegunungan, yaitu brujul yang terdiri dari dua bagian. Kedua bajak itu sangat ringan sehingga seorang petani yang telah selesai bekerja bisa memangguli bajak di atas bahunya saat berjalan pulang. Untuk kebun-kebun kecil di sekitar desa digunakan bajak kecil atau luku china, yang ditarik seekor kerbau. Penggaru, yang berupa kayu pipih panjang dengan satu papan, dan terbuat dari kayu jati, kecuali untuk pegangan, balok dan gandaran, yang semuanya terbuat dari bambu. Ketika peralatan membajak digunakan, petani biasanya duduk di atasnya untuk memberi tekanan pada tanah yang digarapnya.

Pacul adalah alat cangkul yang agak besar, yang fungsinya di Jawa sama dengan sekop di Inggris, yaitu untuk pengolahan tanah pertanian setelah dibajak. Kepala atau ujungnya terbuat dari kayu yang dilapisi besi, dan pegangannya setinggi dua setengah kaki, berupa kayu yang ramping. Arit atau pisau pembabat, dan ani-ani untuk memotong butiran padi. Alat pemotong padi ini bentuknya khusus sehingga si pemotong akan memegang batang padi sedemikian rupa dan memotongnya dengan sisi ani-ani sekitar beberapa inchi dari batangnya. Proses ini akan diikuti oleh setiap pemotong yang sedang bekerja secara bersamaan. Menurut keterangan penduduk, upacara pemotongan ini berasal dari tradisi zaman dahulu yang disebut dengan upacara s’lamat, atau ucapan terima kasih atas panen yang berlimpah. Menurut kepercayaan apabila tradisi ini ditinggalkan mereka tidak akan bisa panen dengan baik.

Lahan padi dibajak, digaru dan ditanami serta diairi oleh para laki-laki, tetapi untuk menyiangi, memotong, dan mengangkut padi ke desa atau pasar sepenuhnya tanggung jawab perempuan (ketika tidak ada hewan ternak untuk mengangkut).

Musim

Selain dua musim tetap yang mengubah kondisi alam dan terjadi sepanjang tahun, ada beberapa musim yang lebih tidak teratur dan tidak bisa diantisipasi kedatangannya. Variasi musim ini bisa dihitung berdasarkan tanda-tanda alam atau perhitungan wuku, yang adan diterangkan di bagian lain. Untuk menjaga keselamatan desa dan memberi tahu petani mengenai waktu-waktu yang tepat untuk bercocok tanam merupakan tugas pemuka agama desa. Beberapa musim kecil ini, yang pertama terjadi setelah musim panen berakhir di bulan Agustus atau September selama 41 hari. Selama musim ini, daun-daun rontok dari pohonnya, tanaman banyak yang terganggu, dan para petani biasanya membakar rumput serta semak liar untuk mempersiapkan tegal atau gagas. Di musim kedua yang berlangsung selama 25 hari, tumbuh-tumbuhan mulai bersemi lagi. Musim ketiga yang berlangsung selam 24 hari, merupakan masa paling tepat untuk menanam ubi jalar, ubi dan tanaman lain sebagai tanaman pengganti. Bunga-bunga liar di hutan mulai bersemi, dan pada saat itu mulailah periode musim kering. Musim keempat juga berlangsung selama 24 hari. Pada musim ini banyak hewan liar melakukan perkawinan, kemudian angin kencang mulai sering terjadi, hujan mulai turun, dan permukaan sungai meluap. Musim kelima berlangsung selama 26 hari, bibit padi mulai dipersiapkan dan saluran irigasi mulai diperbaiki untuk digunakan pada masa bercocok tanam dimana memerlukan pengairan. Pada musim keenam yang berlangsung selama 41 hari, lahan mulai dibajak dan bibit padi mulai disebarkan di sawah. Musim ketujuh berlangsung selama 41 hari, dan selama musim ini pari mulai dipindahkan ke sawah, dan kembali diairi. Pada musim kedelapan yang terjadi selama 26, tanaman mulai tumbuh tinggi melebihi air dan mulai berkembang. Musim kesembilan berlangsung selama 25 hari, dan selama musim ini batang-batang padi mulai tumbuh. Musim kesepuluh juga berlangsung selama 25 hari, dimana padi mulai masak dan menguning. Di musim kesebelas, musim panen tiba selama 26 hari, dan di musim kedua belas yang berlangsung selama 41 hari, musim panen selesai, padi telah disimpan, dan musim kering pun dimulai, dimana siang hari sangat panas dan malam harinya paling dingin di tahun itu. Perhitungan yang akurat dari penduduk untuk memulai menanam jenis tanaman yang berbeda merupakan subjek yang sangat menarik untuk dikaji lebih lanjut. Perhitungan musim tersebut tampaknya berpatokan pada masa tanam padi yang dipengaruhi musim hujan tahunan, tetapi banyak sawah yang tidak tergantung apada musim hujan karena adanya aliran sungai yang cukup besar sepanjang tahun. Sering dijumpai satu lahan yang mengalami dua musim bersamaan, pada satu saat ada yang sedang menanam bibit di lahan yang baru dibajak, dan pada saat lain banyak para pemotong padi sedang memanen padi yang masak.

Perbedaan Jenis Tanah

Tanah di Jawa terbagi dua, yakni yang bisa mengandalkan pengairan dari sungai dan yang tidak bisa. Tanah pertama disebut sawah, dan jenis kedua disebut tegal atau gaga. Padi hanya ditanam di sawah, yang juga terbagi menjadi dua yaitu sawah yang saluran irigasinya berasal dari mata air atau sungai yang disebut sawah yang ideal, dan sawah yang bergantung pada turunnya hujan atau pada saluran irigasi buatan dan dinamakan sawah tadahan. Sawah ideal merupakan sawah paling berharga, dan mengalami dua kali musim panen tahunan tanpa tergantung apada musim tertentu di tahun itu. Luasnya tidak lebih dari 40-60 kaki, dan air sungai dialirkan ke sawah melalui semacam selokan setinggi 1 kaki. Di lereng pegunungan sawah semacam ini dibuat bertingkat-tingkat untuk memudahkan pengairan, dimana air dari teras paling atas akan mengalir terus ke teras-teras di bawahnya. Tanah tegal biasa untuk menanam jenis tanaman yang tidak begitu penting, seperti padi gunung, jagung dan beberapa jenis lain.

Keunggulan sawah atau lahan basah dibanding tegal yang kering, adalah pada hasil produksinya. Produksi tanah tegal yang cocok untuk bertanam jagung, berbeda di tiap distrik. Di Cheribon, hasil tanah tegal menurut survey terakhir hanya sebanyak 2.511, sedangkan produksi sawah mencapai 16.000. Di Tegal perbandingan antar 891 : 11.445, di Surabaya perbandingannya sekitar 1.356 : 17.397, di Kedu dan Besuki perbandingannya hampir sama, yaitu antara 8.295 : 10.757 dan 6.369 : 7.862.

Keberhasilan panen, selain tergantung pengairan juga tergantung jenis tanahnya. Ada tiga jenis tanah yang terdapat di provinsi pedalaman, yaitu tanah ladu, tanah linchad, dan tanah pasir. Tanah ladu merupakan jenis terbaik, berupa tanah gembur yang subur dan sedikit campuran pasir, terletak di tepi sungai. Jenis kedua berupa tanah liat murni, terletak di dataran tengah. Jenis ketiga berkapur, terletak di distrik tepi pantai. Padas pereng merupakan tempat dimana tanah lumpur yang subur membentuk gundukan kecil di bukit, dan sebagai tempat menghilangnya aliran air. Tanah ladu akan terus menghasilkan panen baik. Tanah linchad hanya bisa panen satu kali dalam setahun, dan selama musim hujan, tanahnya akan mejadi lumpur kental, dimana padi mulai masak dan menguning, tetapi saat musim kering tanahnya akan pecah-pecah, sangat panas dan tidak bisa ditumbuhi tanaman apapun.

Selain padi yang merupakan tanaman utama di sawah, ada beberapa jenis tanaman yang juga ditanam di sawah sebagai panenan tambahan di tahun itu. Di antaranya beberapa jenis kacang, pohon kapas, terung, ketimun dan lain-lain. Tanaman tambahan ini masa matangnya sama dengan padi dan hanya bisa dipanen sekali setahun; hanya tumbuh di sawah yang sistem pengairannya baik dan tidak ada genangan air permanen. Jenis tanaman tambahan terpenting, yaitu gude, kacang penden, kacang china, kacang hijau, kedelai, jagung, jagung india, jagung chantel, jawawut, jali, wijen, jarak atau palma christi, terong, dan kentang jawa.

Tanah tegal yang terletak di dataran tinggi diolah dengan teknik penanaman tertentu dan hasilnya sama baiknya dengan panen di sawah. Bersamaan dengan ditanamnya bibit padi, juga ditanam pula bibit sayuran dengan waktu kematangan yang berbeda-beda, terutama setelah panen padi selesai. Pohon yang paling banyak ditanam adalah kapas. Di beberapa lahan banyak tumbuh pohon kapas tanpa perlu ditanam secara khusus. Selain itu, ada beberapa jenis sayuran dan pohon lain yang tumbuhnya tidak mengganggu padi. Tidak kurang dari 6-8 jenis sayuran bisa ditanam bersamaan di lahan padi yang sama.

Bercocok Tanam Padi

Beras merupakan makanan utama penduduk Jawa, seperti juga di India, sehingga tanaman lain dianggap kurang penting dibanding padi. Pulau-pulau kecil dan juga Pulau Sumatera, Malaka, Borneo, Celebes dan Maluku, seringkali tergantung pada hasil panen dari Jawa. Belanda sendiri setiap tahunnya membawa sekitar 6-8 ribu ton ke Koromandel, Ceylon, Tanjung dan wilayah koloni mereka lainnya. Bahkan dengan harga beras yang murah, pemerintah kolonial tiap tahunnya mendapat keuntungan sebesar 4 juta rupee, atau setengah juga sterling dari hasil panen.

Berdasarkan cara pengolahannya, padi ini biasa disebut padi sawah atau padi gaga, sama dengan padi sawah dan padi ladang di Sumatera. Di Distrik Sunda, padi gaga disebut padi tipar, dan hanya ditanam di lahan pegunungan yang baru dibersihkan.

Padi yang ditanam di lahan kering dan lahan basah yang tergenang air merupakan varietas dari jenis yang sama (Oryza sativa dari Linnaeus). Meski bentuknya permanen, tetapi padi yang ditanam di gunung dan lahan kering tidak bisa ditanam di lahan basah. Sebaliknya, padi sawah tidak bisa hidup di lahan kering. Padi gunung biasanya memiliki butiran yang lebih besar dan lebih lezat dibanding jenis lain, tetapi hanya bisa dinikmati di distrik yang jarang penduduknya. Di pedalaman, kebanyakan penduduknya bergantung pada produksi padi sawah atau lahan basah untuk konsumsi mereka.

Stavorinus menyatakan bahwa mutu padi gunung berada di bawah padi sawah, tetapi Marsden mengatakan sebaliknya, padi gunung harganya lebih mahal, lebih putih, lebih tahan lama, lebih besar, rasanya lebih enak dan lebih mengembang setelah direbus. “Padi dari lahan rendah,” katanya, “lebih banyak tersedia bibitnya, serta lebih terjaga ketersediaannya. Karena itu, kualitasnya tidak sebaik jenis lain, dan lebih banyak dikonsumsi dibanding jenis uper tersebut.’ Secara umum lebih disukai padi yang lebih berat dan putih, seperti diungkapkan Bontius bahwa karakter padi super dapat dilihat dari warna putihnya, kejernihan warnanya, berat dan besar butiran padi. Dr. Horsfield menyatakan bahwa penelitian Marsden jauh lebih luas cakupannya. Beberapa penduduk mengatakan bahwa mereka lebih menyukai beras gunung apabila ada, karena rasa, daya tahan dan warna putihnya. Sayangnya, jumlah yang bisa ditanam sangat sedikit sehingga semua padi kering atau padi gunung yang aada tidak cukup untuk memberi makan sepersepuluh populasi yang ada. Di Pulau yang penduduknya lebih sedikit, seperti di Sumatera, seluruh penduduk mengkonsumsi padi gunung, atau padi ladang. Ladang merupakan lahan yang berasal dari tanah hutan, dan hanya bisa ditanami satu jenis tanaman saja. Butiran padi Sumatera, seperti halnya padi gunung di Jawa, lebih bergizi dan lebih enak, tetapi di daerah yang padat penduduk, dimanan lahan yang tersedi terbatas, para petani harus bisa memanfaatkan lahan dan pengairan yang ada untuk menghasilkan sebanyak mungkin beras meskipun mutu dan harganya tidak terlalu tinggi.

Sawah-sawah di Pulau Jawa sebelumnya dibajak, digaru dan diairi oleh tenaga binatang dan manusia, sampai tanahnya menjadi lumpur semi padat, baru kemudian dianggap bisa ditanami. Tidak perlu penggunaan pupuk kandang. Kompos (bangkil), yang dianggap sebagai pupuk oleh beberapa penulis, hanya digunakan di lahan sekitar kota Batavia (Sunda Kelapa atau sekarang disebut Jakarta-ed). Salah satu ciri tanah Jawa adalah tidak memerlukan penggunaan pupuk. Di lahan sawah, pengairan tahunan sudah cukup untuk meremajakan tanah dan bisa menghasilkan panen tahunan yang bagus tanpa ada tanda-tanda kurang subur.

Biasanya tanaman dipindah dari tempat semula di sawah. Pada pengolahan tegal atau gaga, tanaman tumbuh di tempat yang sama sejak awal ditanam. Apakah lahan tersebut terletak di daerah pegunungan atau di dataran rendah. Perbedaan utama antara sawah dan tegal tidak berdasar pada keadaan tanah, tetapi lebih pada perbedaan cafra mengolahnya, baik lahan kering atau basah.

Pada penanaman padi di sawah, air harus terus tergenang sampai padi masak. Biji padi pertama disebar di bidang tanah khusus selama sebulan sebelum kemudian dipindah ke tempat lain. Masa itu disebut sebagai masa bibit. Ada dua metode penanaman, pertama disebut urit, yaitu batang padi ditanam dengan hati-hati ke lumpur empuk tempat pembibitan. Cara kedua disebut ng’eber, yaitu bibit disebarkan ke tempat pembibitan itu seperti cara penai Eropa. Setelah lahan tanam disiapkan, bibit dipindahkan ke lahan tersebut selama musim hujan antara bulan November dan Maret. Sumber air didapatkan dari sungai, mata air, atau danau kecil. Penanaman terjadi dua kali dalam waktu 12-14 bulan, tetapi cara penanaman ganda seperti ini mulai ditinggalkan karena tanah tidak diberi kesempatan beristirahat. Dalam situasi yang bergantung apda pasokan air, tanah dibiarkan tidak ditanami setelah musim panen terakhir, atau saat berakhirnya musim hujan, masa pembibitan dimulai di bulan Juni dan Juli. Hasilnya bisa lebih baik dari metode tanam ganda di sawah. Cara bertanam sekali ini disebut gadu oleh penduduk, dan sangat dianjurkan oleh para ahli pertanian bangsa Eropa.

Irigasi berarti mengalirkan air dari sungai, mata air, atau danau kecil ke sawah-sawah penduduk, namun tidak ada mesin atau apapun yang digunakan untuk mengalirkan asir ke sawah-sawah tersebut, meskipun di Jawa air juga dikumpulkan dan ditampung dalam waduk yang disebut bendung’ans. Padi yang ditanam di sawah ada dua macam, yaitu pari genja dan pari dalam. Jenis pertama siap panen dalam waktu 4 bulan setelah dipindah ke lahan tanam, jenis kedua dipanen dalam waktu 6 bulan. Pari genja yang lebih cepat dipanen merupakan pilihan utama apabila musim hujan lama tidak datang. Pari dalam lebih berisi, dan hasilnya lebih bermutu karena batang padinya lebih panjang dan banyak butirnya. Variasi kedua jenis ini sangat jelas dan sifatnya permanen.

Subvariasi padi lebih beragam lagi, misalnya ketan yang memiliki sekitar seratus jenis. Ketan adalah variasi padi yang butirannya sangat lengket, jarng digunakan sebagai makanan pokok, kecuali untuk membuat kue atau sejenisnya. Varietas pari gensha, mentik dan anchar bantap paling disukai. Varietas pari dalam, krentulan dan suka nandi banyak dicari karena rasanya yang enak dan tahan lama. Jenis slamat jawa juga berkualitas bagus. Jenis padi yang dianggap bagus adalah yang tahan lama dan butirannya tidak mudah pecah. Di dekat ibu kota Surakerta di daerah Kertasura ada satu lahan yang dialiri air terjun ping’ging yang menghasilkan padi dengan kualitas super, yang khusus dikonsumsi susuhunan. Jenis padi super ini adalah suka nandi.

Untuk jenis pari gaga, baik terletak di dataran tinggi atau rendah, tanahnya diolah dulu dengan dibajak atau digaru. Setelah kondisi lahan siap, maka bibit mulai ditanam. Lubang tanam dibuat oleh ujung tongkat yang disebut panchas. Tiap lubang diisi dua butir benih. Hanya petani yang ceroboh atau yang tidak mempunyai banyak tenagalah yang tidak memperhitungkan proses penyebaran benih ini. Di dataran tinggi, lahan disiapkan sebelum musim hujan, benih disebar sekitar bulan September atau Oktober, dan musim panen terjadi di bulan Januari dan Februari. Gagas di dataran rendah mulai ditanami satu bulan setelah musim panen di sawah, yang pengairannya berasal dari sumber terdekat. Di dataran tinggi, dimana air tidak dapat diangkut ke atas, tanaman hanya diairi air hujan yang pertama turun. Selama masa tumbuh, tanaman ini diairi oleh petani.

Apabila tanaman mulai masak, di tengah sawah didirikan pondok, dan tali panjang yang diberi bunyi-bunyian. Tali ini direntangkan dari ujung ke ujung dan seorang anak akan berjaga di tengah pondok ini sambil menarik tali untuk mengusir burung-burung yang hendak memakan tanaman. Pondok kecil di tengah sawah ini, terutama di Distrik Banyumas, terbuat dari jalinan bambu yang sangat rapi.

Para pemotong padi dibayar dengan cara bagi hasil padi, dengan jumlah yang berbeda untuk tiap daerah, sekitar 6-8 bagian, tergantung luas lahan dan jumlah pekerja. Ketika musim panen tiba bersamaan dalam satu distrik, para pemotong menginginkan bagian seperempat atau seperlima dari hasil panen. Tapi biasanya para buruh pemotong ini harus puas dengan bagian sepersepuluh atau seperduabelas saja.

Biji padi dipisahkan dari batangnya dengan dipukul-pukul beberapa kali. Biasanya dilakukan di atas undakan kayu, dilakukan di desa sebelum dibawa ke pasar. Proses perubahan pari menjadi beras dilakukan dengan cara ditumbuk sampai kulitnya terlepas atau bergantung pada selera pembeli.

Jagung

Dengan pengecualian padi yang ditanam di sawah, semua tanaman lain ditanam di atas lahan kering, baik sawah pada musim kering, atau di lahan tegal, terutama tanaman yang hanya tumbuh dengan pengolahan kering. Makanan pokok para penduduk setelah beras adalah jagung. Biasa ditanam di seluruh Distrik Jawa, terutama di Madura, dimana pulaunya tidak bergunung sehingga kultur tanahnya kering dan sullit mendapat pengairan. Di daerah-daerah padat penduduk, dimana produksi sawah tidak mencukupi, maka jagung merupakan tanaman pengganti utama. Kebun jagung mulai bermunculan di daerah perbukitan, yang tanahnya kurang subur dan banyak ditelantarkan, sehingga saat ini mulai banyak ditanami jagung sebagai makanan pokok. Di distrik paling timur, tepatnya di Madura, jagung menjadi makanan pokok penduduk. Biasanya dibakar dengan gagangnya, dan dijual saat masih panas. Jagung di sini tidak pernah dibuat menjadi tepung, atau diawetkan dengan cara apapun.

Zea maize atau jenis jagung biasa, merupakan tanaman keras yang bisa tumbuh di mana saja. Banyak tumbuh di Jawa, tetapi tidak ada alasan untuk percaya bahwa tanah Jawa tidak sebaik tanah Spanyol dan Amerika, yang bisa memproduksi jagung mencapai 150 kali lipat dibanding Jawa. Jagung ditanam di dataran rendah yang subur, bergantian dengan padi. Jika jagung tidak menjadi satu-satunya sumber makanan penduduk, biasanya ditanam di daerah pegunungan, dan hanya ada di kebun milik penguasa lokal. Ada tiga jenis jagung, yang dibedakan berdasarkan lama waktu panen. Jenis pertama, matang dalam waktu 7 bulan dan buahnya besar serta padat. Jenis kedua, matang dalam waktu 3 bulan, namun kualitasnya kalah dari yang pertama. Jenis ketiga, hanya disukai karena matangnya lebih cepat, yaitu dalam waktu 4 hari saja, tetapi buahnya sangat kecil dan jarang. Jagung ditanam kapan saja, dan dari lahan jagung jenis kedua dan ketiga, beberapa sayuran dapat ditanam bersamaan dalam satu lahan.

Tanaman sejenis yang lain, yaitu jagung chantel, biasa ditanam di wilayah pedalaman di beberapa distrik tertentu. Pohon ini biasanya difermentasikan dan dibuat sejenis minuman yang biasa dinikmati penduduk, tetapi tidak untuk makanan pokok. Jawawut dan jali masih banyak ditanam. Penduduk percaya bahwa saat Jawa berada di bawah koloni India, hanya jawawut yang bisa ditemukan sebagai makanan pokok. Biasanya dibuat bubur yang enak, dan juga untuk beberapa gula-gula. Sebagai pengganti nasi, jagung biasa atau disebut jagung India sering dikonsumsi.

Pada masa bahan makanan sulit didapat, penduduk memakan umbi seperti musa, ubi atau uwi, ubi jalar, katelo (Convulvus batatas), berbagai jenis umbi yang telah diterangkan dalam Batavian Transactions, dan sejumlah sayuran seperti kacang, tuton (semacam tanaman liar berbiji kuning), juga beberapa jenis daun-daunan lain. Untunglah pada masa sulit seperti ini sangat jarang terjadi, dan konsumsi jagung chantel dan jawawut tidak begitu sering sehingga tidak banyak mempengaruhi penduduk. Penduduk yang mengkonsumsi jagung, pada umumnya adalah penduduk yang hidup di daerah pegungungan yang udaranya bersih sehingga tidak mepengaruhi kesehatan mereka apabila tidak memakan nasi.

Pohon Aren

Pohon aren (saguru pumhii) yang banyak tumbuh di Jawa, bisa menghasilkan semacam tepung, seperti tepung sagu di kepulauan timur. Apabila persediaan makanan berkurang, banyak pohon aren yang ditebang untuk diambil tepungnya. Sari buahnya dapat dibuat menjadi gula coklat yang biasa dinikmati penduduk. Minuman keras atau tuwak yang terbuat dari aren rasanya lebih enak dibanding dari pohon lain.

Tepung yang dihasilkan dari batang pohon ini, pengolahannya dicampur dengan air, dan dibiarkan semalam agar mengendap, lalu cara makannya dicampur dengan gula aren, yang rasanya disukai oleh orang Eropa. Akar tanaman jenis cucurma dan temu lawak, apabila diparut dan direbus akan menghasilkan tepung yang serupa. Kedua jenis tepung itu dinamakan pati, dan biasa dijual di pasar atau di pinggir jalan.

Pohon Kelapa

Semua jenis varietas pohon kelapa yang ditemukan di Sumatera, juga tumbuh subur di Jawa, dimana tanahnya yang subur memungkinkan untuk tumbuh dengan baik. Berbagai varietas pohon kelapa yang ada telah diterangkan dalam valume awal Batavian Transactions.

Tanaman Penghasil Minyak

Ada beberapa tanaman yang bisa menghasilkan minyak, yaitu jenis kacang goring di daerah Malaya atau biasa disebut di Jawa dengan nama kacang china, penden (pendem), atau tana (tanah). Biasanya ditanam di perkebunan dekat ibukota, baik distrik pedalaman maupun pantai. Tanaman ini membutuhkan tanah yang kuat, dan karena sangat menguntungkan, maka sewa tanahnya sangat tinggi. Tidak pernah dijadikan bahan makanan, tetapi endapan sisa minyak biasa digunakan penduduk untuk membumbui nasi. Minyak dihasilkan dengan menggiling biji di antara dua gilingan kayu, dan dipisahkan dengan memerasnya atau direbus. Cara pertama biasa digunakan orang Cina, dan sisa perasan biasa digunakan sebagai pupuk, seperti yang saya lihat di kebun dekat kota Batavia. Apabila tidak digiling, pengolahan minyak kacang dapat dengan cara menjemur kacang di bawah sinar matahari selama beberapa hari, setelah itu ditumbuk dengan lesung batu atau kayu sampai lumat. Kemudian kacang direbus dan didinginkan selama 24 jam, ditaruh dalam wadah yang ditempatkan di antara dua papan persegi panjang, dan kemudian ditekan sekuatnya, sama seperti memeras jeruk. Minyak yang dihasilkan dari perasan ini ditampung dalam kantong kulit kerbau.

Arachis hypogaea L, Groundnut, peanut, Kacang Tanah, Kacang aduk (Madura), Kacang brudul, Kacang brul, Kacang brol, Kacang jebrol, Kacang Cina, Kacang krentil, Kacang krentul, Kacang pendem, Kacang prol, Kacang srentul (Jawa), Kacang japong (Seram), Kacang tapong (Seram barat:Rumakai, Atamano), Kacang tepong (Seram barat:Piru), Kacang jawa (Manado), Kacang suuk, Kacang taneuh (Sunda), Kacang tanah (Bali), Kacang tano (Batak, Mandailing), Kacangkoeken, Kacangolie (Belitung), aneue kacang (Aceh), kacang kembili (karo), kacang tano (Mandailing), retak guring, retak tanah (Lampung), seretak petak (Dayak) – sumber : www.proseanet.org

Pohon jarak atau palma christi, dipelihara dengan cara seperti jagung dan di atas lahan yang serupa. Dari tanaman ini dihasilkan minyak untuk lampu. Cara pengolahan minyaknya sama dengan minyak kelapa, tetapi setelah proses terakhir biasanya dihasilkan minyak yang berbau tengik, dan tidak menghasilkan minyak murni. Dari pohon kelapa, minyak dihasilkan dengan diperas, dan sisa kelapa terus diolah sampai dihasilkan minyak murni. Cara lainnya adalah dengan mamarut daging buah, lalu disiram air sehingga membentuk cairan putih kental atau santan, kemudian direbus sampai dihasilkan minyak. Karena proses ini memerlukan banyak waktu dan tenaga, ada cara lain yang lebih ekonomis, yaitu santan dibiarkan semalaman hingga esoknya akan didapati lapisan minyak pada permukaannya, kemudian dipisahkan dengan cara direbus sebentar.

Tebu

Tebu dikenal di seluruh kepulauan dan pohonnya banyak tumbuh di Jawa dimana memiliki beberapa varietas. Pohon tebu yang paling bagus batangnya adalah yang berwarna ungu gelap, dan tingginya sekitar 10 kaki. Penduduk biasa menikmati sari tebu langsung dari batangnya sebagai pemanis, tanpa perlu diolah. Mereka belum mengenal cara membuat sakarin dari tebu, yang diolah lebih lanjut menjadi gula. Penduduk lokal yang sudah merasa puas dengan cara menikmati tebu selama ini, menyerahkan pengolahan gula tebu ini sepenuhnya kepada orang Cina.

Tebu sama seperti di India Barat, disemaikan dengan teknik memotong bagian batang sepanjang satu setengah kaki, dan ditanam di tanah tegak lurus, terutama sebelum musim hujan.Orang Cina biasa memberi pupuk untuk menyuburkan tanah yang diharapkan bisa menghasilkan 3-4 kali panen, tetapi tidak dibutuhkan pupuk untuk tanaman yang tumbuh liar.

Tebu biasanya dipelihara untuk diambil sarinya di sekitar Batavia, dimana terdapat beberapa pabrik, kebanyakan dikelola oleh orang Cina. Perkebunan tebu juga dapat ditemukan di daerah Japara (Jepara) dan Pasuruan, serta beberapa distrik di wilayah timur, dimana terdapat beberapa penggilingan tebu. Sebelum peristiwa kerusuhan di Cheribon (Cirebon), gula biasa diproduksi pabrik di distrik ini dalam jumlah banyak dan menjadi produk ekspor.

Kopi

Tanaman kopi yang dibawa ke Jawa oleh pemerintah kolonial Belanda di awal abad ke-18, menjadi slah satu tanaman yang dimonopoli oleh pemerintah Belanda. Mulai dari penanaman, perawatan, sampai pengangkutan hasil ke gudang pemerintah dilakukan oleh penduduk atas paksaan dan tekanan serta berbagai tindak kekerasan lain oleh para mandor yang diupah pemerintah. Sebelum tahun 1808, perkebunan kopi hanya ada di Distrik Sunda. Hanya ada beberapa kebun di wilayah timur, dengan produksi tidak mencapai sepersepuluh bagian yang ada. Namun, di bawah pemerintahan Marshal Daendels, tanaman ini tumbuh di berbagai lahan, dan semua perkebunan hanya difokuskan pada kopi tanpa kecuali, dan akhirnya hampir seluruh provinsi di Jawa dipenuhi kebun kopi.

Di Distrik Sunda, tiap keluarga wajib menanam 1.000 pohon kopi. Sementara di wilayah timur, dimana kondisi tanahnya kurang mendukung tanaman ini, jumlah yang wajib ditanam tiap keluarga adalah 500 batang. TIdak boleh ada penolakan dalam tugas ini. Semua tugas untuk menanam, menyiangi dan mengumpulkan ada di bawah pengawasan pegawai Belanda, yang menentukan tempat di mana lahan baru harus dibuka, dan menentukan pekerjaan pembersihan dan menyiangi tanaman, serta menentukan penerimaan hasil panen untuk disimpan di gudang.

Tanah hitam yang bercampur pasir merupakan tanah paling ideal untuk tanaman kopi. Pemilihan kebun kopi harus mempertimbangkan tempat yang ideal, dimana ketinggiannya harus tepat, tidak terlalu banyak mendapat sinar matahari dan juga tidak terlalu banyak terkena hujan yang bisa menghanyutkan tanah yang subur. Tempat terbaik adalah lembah di kaki gunung, atau di lereng perbukitan yang rendah, dan di daerah dekat gunung berapi. Semakin tinggi kebun itu terletak semakin lama periode yang dibutuhkan untuk panen, namun akan menghasilkan biji kopi yang lebih baik.

Setelah memilih tempat yang akan dijadikan kebun, langkah selanjutnya adalah membersihkan tanah disekitarnya dari berbagai semak, rumput liar atau buluh yang disebut galaga, yang tumbuhnya menandakan bahwa tempat itu adalah tanah yang subur. Semua rumput dan semak dikumpulkan membentuk satu gundukan lalu dibakar, dan abunya dapat digunakan untuk pupuk. Ketika ada pohon besar yang akarnya kuat tumbuh di situ, akan ditebang sampai setinggi lima kaki dari tanah dan dibiarkan membusuk. Setelah lahan kebun ini bersih kemudian dibuat 3-4 lubang dalam jarak berdekatan untuk tempat bibit. Pagar hidup ditempatkan di sekeliling lubang, biasanya berupa pohon jarak atau pohon christi, atau pohon dadap atau pohon kapas. Pada dataran rendah, di sekitarnya dibangun selokan untuk mengalirkan air. Tahapan ini dilakukan di bulan Agustus atau September, saat lubang siap ditanami, dan musim hujan lebat sudah akan berakhir. Tahap selanjutnya memilih pohon muda dan pohon dadap (cangkring) yang berfungsi sebagai tudung.

Ada tiga jenis pohon dadap, yaitu serap, dori, dan waru. Jenis pertama hanya digunakan jika pohon kopi memerlukan tanaman pelindung yang besar. Pohon ini ditanam dengan cara ditebang dari tempat semula, umurnya paling tidak 2-3 tahun, tingginya 3-4 kaki (1 kaki = 0,3048 m) dan satu kaki akan ditanam ke dalam tanah. Setelah dadap ditanam, sebuah lubang digali untuk tempat tanaman kopi muda yang sebelumnya dibiakkan di tempat pembibitan.

Kebun kopi yang berusia 4-5 tahun, ditemukan banyak tanaman baru yang masih muda, yang tumbuh dari biji kopi masak yang jatuh ke tanah. Ketika tingginya mencapai 14 inci (35,56 cm), batangnya kuat dan daunnya lebar serta tanpa cabang. Pohon ini kemudian dibiarkan tumbuh, tetapi karena pohon muda jarang ada yang berkualitas, maka harus ada bantuan pembibitan. Prosesnya, yaitu ketika biji kopi dibiarkan di pohonnya setelah matang, bijinya akan kering dan menghitam, kemudian dipetik dan ditanam dalam lubang pembibitan. Setelah muncul dua daun kecil, tanaman dipindah ke lubang tanah sedalam satu kaki, di bawah naungan pohon pelindung. Setelah 18 bulan, tanaman ini siap dipindahkan lagi ke kebun sampai mereka siap dipanen. Cara mengambil tanaman muda harus hati-hati, jangan sampai merusak akarnya. Karena itu, cara mengambilnya dengan mengangkat seluruh tanah sekitarnya. Dengan cara ini tanaman tidak harus langsung berkontak dengan tanah baru.

Kebun biasanya berbentuk persegi empat. Jarak antara satu tanaman ke tanaman lain bervariasi, tergantung kesuburan tanah. Di tanah yang kurang subur, jaraknya sekitar enam kaki, dan ditanami dadap di antaranya sebagai pohon pelindung. Sedangkan di tanah yang subur tidak banyak dadap yang dibutuhkan, dan jarak antara tanaman lebih jauh dibanding jarak tanaman di tanah kurang subur.

Di Jawa pohon kopi memerlukan tanaman pelindung, terutama di kebun yang terletak di dataran rendah dan pada masa awal pertumbuhan. Sementara pohon dadap dianggap tanaman yang paling cocok untuk keperluan itu. Sudah menjadi hal yang umum apabila ada pohon dadap pasti ada pohon kopi, tetapi tidak selamanya seperti itu, karena di kebun kopi yang terletak di dataran tinggi, sangat sedikit pohon dadap yang ditemukan. Pohon kopi mulai masak dalam waktu 20 tahun, tetapi di tempat rendah memerlukan waktu selama 9-10 tahun (selama 6-7 tahun merupakan masa tumbuh utama) dengan biji lebih besar dan tawar.

Di akhir musim penghujan, pohon kopi dan dadap yang sudah tidak terpakai diganti dengan tanaman lain, dan perkebunan dibersihkan.Praktek ini dilakukan setiap 3-4 kali setahun di kebun yang terawat, tapi tanaman yangada jarang sekali dicabut atau dipotong, melainkan dibiarkan tumbuh bebas. Pohon yang tumbuh setinggi 16 kaki dan lebarnya tidak kurang dari 8 inchi seringkali dipotong untuk diambil kayunya. Produksi kopi secara umum rata-rata tidak lebih dari satu kati atau 1 1/4 pound, tetapi jarang mencapai 20-30 kati.

Tidak ada perkiraan pasti mengenai masa masak pohon kopi. Di Distrik Sunda, musim bunga pohon kopi dimulai di bulan Juni atau Juli, dan masa penyimpanan biji kopi biasanya selesai di bulan April. Ada tiga masa panen, yaitu pertama, masa panen yang sedikit, kedua lebih banyak, dan ketiga merupakan masa pembersihan sisa-sisa atau yang sengaja dibiarkan membusuk. Ketika biji kopi telah berwarna hitam berkilau, lalu diambil dengan hati-hati menggunakan sebatang bambu, tidak boleh merontokkan bunga atau buah yang belum masak. Wanita dan anak-anak bertugas mengambil buah, sementara suami mereka mengerjakan tugas yang lebih berat. Di setiap desa, dimana perkebunan kopi dibuka, ada rumah penyimpanan khusus untuk biji kopi yang telah masak, biasanya tingginya sekitar empat kaki dari tanah. Proses pengeringannya dilakukan dengan menyalakan api unggun sepanjang malam. Atap rumah ini biasanya dibuka di waktu pagi dan malam hari untuk jalan masuk udara, dan biji-biji ini sering dibalik untuk mencegah pembusukan. Sinar matahari siang dianggap merusak sehingga atap ditutup pada siang hari. Biji kopi biasanya kecil, berwarna hijau atau keabu-abuan, dan seharusnya rasanya berubah akibat proses pengasapan, meskipun tidak ada kayu khusus yang digunakan untuk proses pengasapan itu. Biji kopi yang dijemur biasanya warnanya pucat pudar, lebih besar dan ringan serta rasanya lebih tawar dibanding lainnya. Cara paling banyak digunakan untuk memisahkan biji dari kulitnya adalah dengan menempatkan biji kopi ini dalam kantong kulit kerbau dan dipukul-pukul dengan hati-hati agar tidak memecahkan bijinya. Ada beberapa alat penggilingan sederhana, tetapi tidak cukup baik hasilnya. Kopi yang sudah bersih diletakkan dalam kantong atau wadah, dan dibawa ke gudang penyimpanan oleh tenaga manusia atau kerbau atau kuda, sebanyak 1500-2000 ikatan tiap kali angkut.

Di Distrik Sunda ada tiga depot utama tempat penyimpanan kopi dari para petani, yaitu di Buitenzorg (Bogor), Chikan dan Karangsambang. Dari Buitenzorg kemudian dibawa ke Batavia dengan kereta atau dengan linkong, yaitu dengan perahu di atas Sungai Cidani (Sungai Cisadane). Dari Chikan, kopi dikirim dengan perahu lewat Sungai Citarum menuju laut Batavia. Dari Karangsambang dikirim lewat Sungai Cimanok (Sungai Cimanuk) ke Indramayu, semuanya dikumpulkan dalam satu gudang besar dan diekspor ke pasar Eropa.

Kualitas kopi Jawa dibandingkan kopi-kopi dari negara lain, selama tahun-tahun terakhir terus bersaing dengan kopi dari Bourbon (termasuk wilayah Perancis, pulau di sebelah timur madagaskar, sebelah tenggara mauritius, sekarang bernama Reunion), dan keduanya dianggap lebih berkualitas dari produksi kopi India Barat.

Lada

Lada pada awalnya merupakan produk ekspor utama dari Jawa, dan selama beberapa waktu mulai ditanam di tempat-tempat lain. Perkebunan utamanya ada di Bantam (Banten) dan daerah taklukannya di Sumatera selatan. Pada masa monopoli perdagangan Belanda, distrik-distrik ini merupakan sumber utama untuk ekspor ke pasar Eropa.

Tanaman ini dapat tumbuh di semua jenis tanah, dan tidak banyak membutuhkan perawatan seperti halnya kopi. Perkebunan lada yang ada di Sumatera dan pulau-pulau milik Pangeran Wales telah digambarkan oleh Marsden dan Dr. Hunter, sehingga tidak perlu menerangkan proses yang sama di Jawa. Perbedaannya adalah di Jawa pohon ini dibiarkan tumbuh lebih tinggi melingkari pohon kapas setinggi 50-6- kaki.

Nila

Di Jawa nila disebut tom, sedangkan di Sunda disebut tarum, yang banyak terdapat di berbagai daerah di pulau ini. Nila yang ada di kebun milik penduduk biasanya lembek dan banyak mengandung air, tetapi yang dipelihara di kebun orang Eropa kualitasnya lebih baik.

Pohon Nila/Tom/Tarum/Indigofera arrecta Hochst. ex A. Rich

Varietas yang kurang baik dinamakan tom menir. Buahnya lebih kecil dan pohonnya lebih cepat berbuah, biasa ditanam setelah musim panen pertama di sawah. Pohonnya tumbuh setinggi 31/2 kaki, kemudian dipotong sebanyak 3-4 kali sampai musim panen padi kembali tiba. Namun, jenis yang superior biasa ditanam di tegal, di atas tanah yang subur dan tidak terganggu oleh tanaman lain,dengan ketinggian mencapai lebih dari 5 kaki, dan buahnya lebih lebat. Biasanya, tanaman ini ditanam di satu bidang tanah yang lebih tinggi di sawah, dan tanamannya bisa berganti-ganti di tiap distrik. Tanaman yang tumbuhnya paling baik di daerah pegunungan ini kemudian dipindahkan ke dataran rendah untuk mencegah kerusakan tanah akibat ditanami pohon yang sama sepanjang tahun. Di provinsi Mataram, dimana tanaman nila ini paling banyak tumbuh, dijual di pasar dalam satu ikatan. Tapi di sekitar Semarang dan di distrik produksinya tidak banyak.

Iklim, tanah dan sistem pertanian yang ada tampaknya mendukung suburnya tanaman ini. Dibawah pengelolaan pabrik yang berkualitas, bahan pewarna yang dihasilkan bisa menjadi salah satu produk ekspor andalan di Eropa. Periode istirahat dan pembersihan lahan yang dikenal dalam pertanian dan pabrik di Bengali tidak dikenal di Jawa, yang tampaknya dapat memproduksi jenis tanaman ini sepanjang tahun. Hanya pada waktu-waktu khusus yang baik untuk memanennya. Tanahnya memiliki kualitas yang baik dan tersedia sumber air yang mencukupi, tidak seperti di tempat lain.

Bahan pewarna (biru nila) disiapkan penduduk dalam bentuk cairan, dengan cara memeras daunnya bersama dengan sejumlah jeruk nipis, dan hasilnya akan menjadi bahan pewarna utama di negeri ini. Selain untuk konsumsi dalam negeri, juga diekspor ke beberapa negara tetangga.

Kapas

Kapas di pulau ini biasa disebut kapas Jawa, merupakan varietas dari Gousium herbaceum, tetapi jenis yang lebih rendah dari jenis kapas yang berasal dari daratan India, yang di Jawa dikenal dengan nama kapas muri. Jenis yang pertama berbeda dalam hal batangnya yang lebih kecil, dan hasilnya kapasnya yang lebih kasar serta lebih sedikit. Ada jenis kapas yang jarang ditemui, yaitu kapas Tahon. Penelitian masih terus dilakukan untuk mengetahui seberapa jauh kapas India bisa dikembangbiakkan disini, dan juga memelihara tanaman kapas Jawa. Jenis yang rendah banyak ditemukan dan juga menjadi satu-satunya bahan baku pakaian penduduk. Tanahnya sendiri kuang mendukung pertumbuhan kapas ini; banyak lahan di dataran rendah yang terdiri dari tanah liat, dan pecah-pecah pada musim kemarau sehingga tidak bisa ditanami. Di lahan yang lebih subur, pohon kapas yang ditanam hanya menghasilkan sedikit buah. Di daerah dataran tinggi, dimana beras gunung ditanam, bisa menjadi lahan yang paling tepat untuk pohon kapas. Saat ini, produksi kapasnya masih sedikit, dan tiap aerah masih mengandalkan produksi daerah lain. Kapas dari Banyumas diekspor ke Bagelen (sekarang menjadi salah satu kecamatan di Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah), Tegal dan bagian barat Matarem (Yogyakarta), dimana terdapat pabrik di sana. Daerah Wonggo, Adilangu dan beberapa daerah perbukitan selatan, mengirimkan hasil kapasnya ke ibukota pedalaman Kediri, Panaraga dan sekitarnya, yang menjadi sumber kapas bagi daerah lain. Distrik Sunda menerima kapas dari daerah timur dan barat Jampang. Penanaman kapas dan pembuatan kain masih menggunakan cara-cara lama, yaitu lahan kapas disediakan di tiap desa khusus untuk keperluan penguasa atau tuan tanah. Tradisi ini dikenal dengan nama panyumpleng. Para penguasa di Jawa dan Bali seringkali melingkarkan gumpalan kapas dua kali di sarung keris mereka sebagai tanda penghargaan terhadap tanaman ini.

Kapas Jawa pohonnya keras, tumbuh setinggi 1,5 kaki. Biasanya ditanam di sawah setelah panen selsesai dan buahnya siap dipetik kurang dari 3 bulan. Kapas India pohonnya lebih besar dan juga menghasilkan kapas yang bermutu lebih baik, tetapi pohonnya lebih rapuh, membutuhkan perawatan ekstra dan waktu matangnya lebih lama. Kapas yang ditanam di tanah tegal atau tanah kering lebih baik hasilnya dibanding yang ditanam di sawah. Cara bercocok tanam yang seperti inilah yang membuat kapas Bali lebih superior dibanding kapas dari daerah lain.

Tembakau

Tembakau biasa disebut penduduk dengan tombaku atau sata, yang banyak tumbuh di berbagai tempat, tetapi produksi untuk ekspor khusus ditanam di daerah Kedu (karisidenan Kedu, Jawa Tengah) dan Banyumas, karena jenis tanahnya yang gembur, tapi tidak memerlukan banyak perawatan, yang hanya ada di kedua distrik ini dibandingkan tanah di dataran rendah. Untuk konsumsi penduduk, banyak ditanam lahan tembakau di berbagai tempat, tapi distrik di wilayah timur dan Madura mendapat tembakau dari daerah Pugar. Bantam menerima tembakau dari Banyumas, yang dibawa oleh pedagang dari Pekalongan yang berlabuh di pelabuhan Bantam. Produksi dari Kedu dibawa ke Semarang yang merupakan pelabuhan untuk ekspor.

Produksi tembakau di Kedu menempati urutan kedua setelah beras, dengan hasil berlimpah yang jarang ditemui di India. Pohonnya tumbuh setinggi 8-10 kaki di atas tanah yang cocok meskipun tidak dirawat dan tidak diberi pupuk. Tembakau ditanam bergantian dengan padi, hanya mampu dipanen satu kali tiap tahunnya, tetapi setelah panen padi dan setelah daun tembakau dipanen semuanya, tanahnya dibiarkan kosong sampai tiba musim bertanam kembali. Tanaman muda atau bibit tidak dihasilkan di distrik ini, tetapi dari dataran tinggi di sekitarnya, terutama dari distrik Kalibeber (Wonosobo), di lereng Gunung Dieng atau Prahu, dimana dipelihara dan dijual kepada petani di distrik sekitarnya. Pemindahan bibit dilakukan di bulan Juni, dan tanaman siap panen di bulan Oktober.

Gandum, Kentang dan Lain-lain

Gandum dibawa oleh bangsa Eropa dan tumbuh di tempat-tempat yang diinginkan orang Eropa dengan baik. Gandum banyak tumbuh di daerah pedalaman, ditanam pada bulan Mei di lahan yang dipelihara oleh penduduk pribumi, dan dipanen pada bulan Oktober. Kentang baru ditanam dalam kurun waktu 40 tahun terakhir, di lahan yang tinggi dekat dengan wilayah pemukiman orang Eropa, dengan kualitas yang lebih baik dibandingkan produksi dari Cina atau Bengali. Beberapa penduduk telah memakan kentang sebagai makanan pokok. Selain kentang, hampir semua sayuran untuk konsumsi orang eropa hanya ditanam di kebun-kebun milik orang Eropa dan orang Cina. Harus diakui bahwa mutunya terus menurun, terutama apabila tidak ada pergantian tanaman, dan sangat bergantung pada impor benih tanaman dari Eropa, dari berbagai tanjung dan wilayah lainnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s